Akar Permasalahan Hujan Asam dan Dampaknya
Istilah hujan asam pertama kali dikemukakan oleh Robert Angus Smith
pada satu abad yang lalu. Robert Angus Smith merupakan Ahli Kimia bangsa
Inggris yang menemukkan derajat keasaman pada curah hujan yang terjadi di
Manchester. Hal tersebut terjadi karena adanya pencemaran udara yang terjadi di
kota tersebut dan menyebabkan terjadinya hujan asam. Ia juga menyebutkan bahwa
hujan asam yang terjadi merupakan bagian dari deposisi asam dan mengatakan
kandungan pada udara yang tercemar jika bercampur dengan air hujan bersenyawa
asam akan merusak bangunan dan monumen bersejarah (Nandika, 1983)
Hujan secara alami memiliki sifat asam
dengan pH sedikit di bawah 6 dan karbondioksida (CO2) di udara akan terbawa
oleh air hujan dan membentuk asam lemah. Sedangkan hujan asam memiliki pH
dibawah 5,6. Hujan asam memiliki sifat asam yang korosif sehingga dapat
mengikis partikel lainnya. Hujan asam memiliki kandungan endapan asam seperti
Sulfur Dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOX) yang terdapat pada udara dan
menyebar pada atmosfer (Cahyono, 2010).
Hujan asam dapat disebabkan emisi gas
gunung berapi dan aktivitas manusia. Emisi gas gunung berapi merupakan sebagian
kecil penyebab dari hujan asam. Aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya
polusi merupakan penyebab paling sering dari hujan asam. Sumber polusi dapat
disebabkan oleh pembakaran sampah, bahan bakar motor dan dapat berasal dari
limbah pabrik kimia. Gas yang dihasilkan tersebut dapat terbawa oleh angin
sebelum berubah menjadi asam dan jatuh ke bumi (Matahelumual, 2010).
Di masa sekarang yang modern hampir semua
kehidupan ditumpu oleh peralatan yang canggih yang lebih efisien waktu dan
tenaga. Salah satu peralatan canggih yang digunakan adalah kendaraan bermotor
dengan bahan bakar bensin, solar, dan premix. Tanpa dipungkiri dengan kendaraan
bermotor bisa menghemat waktu dan tenaga, selain itu kendaraan bermotor
memiliki daya angkut yang lebih banyak. Hanya saja tidak semua teknologi modern
menjanjikan proses yang sehat. Kendaraan bermotor merupakan sebagian besar
penyebab pencemaran udara di samping pabrik industri. Kegiatan industri dan
kendaraan bermotor akan menghasilkan gas buangan berupa SO2, NOX, CO, Pb, dan
partikulat (Yatim, 2007). Berbagai zat yang dikeluarkan tersebut mengakibatkan
kualitas udara menurun dan berpengaruh pada proses kimia dan fisika yang
terjadi di udara. Salah satu dampak negatif pencemaran udara adalah terjadinya
hujan asam.
Dampak Hujan Asam
1. Hujan asam membahayakan bagi kesehatan
tubuh.
Penelitian
Satriawan (2018) yang menyebutkan hujan asam yang masuk ke dalam tanah akan
memiliki kemampuan melarutkan logam-logam berat. Logam-logam berat yang larut
tersebut akan terkandung dalam air tanah dan air permukaan yang mempengaruhi
kualitas air. Air tanah yang sudah tercemar jika dikonsumsi dapat menimbulkan
gangguan kesehatan baik pada tumbuhan, hewan maupun manusia. Dampak negatif
pada manusia adalah berupa penyakit pernapasan, menyebabkan bayi lahir prematur
bahkan meninggal.
Selain itu Talitha (Tanpa Tahun) menjelaskan saat hujan asam berhenti maka partikel-partikel asam akan mengendap di lingkungan terdampak. Jika partikel-partikel asam terhirup oleh manusia akan masuk ke dalam paru-paru dan mengakibatkan berbagai gangguan pernapasan seperti asma, bronkitis, emfisema, serta pneumonia. Selain mengakibatkan gangguan pernapasan, hujan asam juga dapat mengakibatkan gangguan penglihatan dan menyebabkan iritasi.
2.Hujan asam menyebabkan tanaman banyak
yang mati
Air yang mengandung asam cuka (atau dikenal dengan istilah hujan
asam) mengandung belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar
fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur
dioksida dan nitrogen oksida. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan
kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan
tanaman. Adapun bahaya tersebut antara lain: Lapisan lilin pada daun rusak
sehingga nutrisi menghilang yang akhirnya tanaman tidak tahan terhadap keadaan dingin,
jamur dan serangga. Pertumbuhan akar menjadi lambat sehingga lebih sedikit
nutrisi yang bisa diambil, dan mineral-mineral penting menjadi hilang (Nasihah,2017)
Menurut Munzuroglue t a|.(2005) Pengaruh
hujan asam juga dapat menurunkan kandungan vitamin . Penelitian pada tanaman
stroberi yang diberi perlakuan hujan asam akan menurunkan kandungan vitamin A,
E, dan C. Vitamin-vitamin tersebut merupakan antioksidan yang melawan kerusakan
oksidatif. Kandungan vitamin A, E dan C masing-masing sebesar 20,71 %; 37,86 %;
60,62 % setelah diberi perlakuan 21 jam dan menjadi 14,28 %; 30,30 %; 57,44 %
setelah 48 jam perlakuan.
Hujan asam umumnya menyebabkan rusaknya tanaman akibat tercucinya
unsur hara Mg dan Ca dan meningkatnya kandungan Aluminium pada tanah sehingga
meracuni tanaman. Akan tetapi hanya sedikit peneliti yang melihat hujan asam
sebagai suatu tambahan nutrisi bagi tanaman, karena pada dasarnya peningkatan
sulfur dan nitrogen, yang merupakan unsur makro nutrisi tanaman, akan
meningkatkan pula kesuburan tanah. (Prihatinla,2010).
3.Karena keasamannya,hujan asam dapat
mengakibatkan perkaratan pada logam
Hujan asam dapat mempercepat terjadinya
korosi atau perkaratan pada logam karena memiliki pH > 5,6. Logam yang
berada di lingkungan asam akan atau pH > 7 akan mengalami serangan korosi
(Djaprie, 1995 dikutip dalam Basuki, 2017). Pada hujan asam terkandung asam
sulfat (H2SO4) dan bereaksi dengan logam Zn akan menghasilkan persamaan reaksi
:
Zn + H2SO4
→ ZnCl2 + H2 (gas)
Berdasarkan penelitian Gusti (2011)
diketahui bahwa pengaruh asam sulfat terhadap kecepatan korosi baja sangatlah
tinggi. Peningkatan kecepatan korosi berbanding lurus dengan kenaikan
konsentrasi dari asam sulfat. Hal tersebut menunjukkan larutan asam sulfat
merupakan media yang sangat korosif.
4.Jika hujan asam masuk kedalam perairan
maka ekosistem air akan tercemar dan kualitas ikan yang ada akan menurun bahkan
menyebabkan ikan mati
Pada ekosistem akuatik, hujan asam dapat mempengaruhi pH air
ekosistem akuatik, sehingga akan menurunkan populasi ikan,tumbuhan air serta
jasad renik. Hal ini disebabkan oleh kandungan air hujan yang mengandung unsur
hara, khususnya nitrogen yang dapat menyebabkan eutrofikasi yaitu penyuburan
perairan. Eutrofikasi ini akan menyebabkan pertumbuhan plankton yang berlebihan
sehingga plankton saling berebutan dalam mendapatkan sinar matahari dan efeknya
dapat mengakibatkan kematian massal plankton. Hal ini akan menyebabkan oksigen
didalam air habis terpakai dalam proses pembusukan biomassa plankton. Kehadiran
oksigen yang menurun ini akan mengakibatkan kematian ikan dan organisme didalam
air. (Sivaramanan, 2015 dikutip dari Satriawan,2018)
Basuki, C.K. (2017). Ekstrak
kulit manggis sebagai bio inhibitor pada proses korosi ST42 di larutan HCl. Skripsi.
https://eprints.umm.ac.id/40437/. Diakses pada 26 Mei 2022.
Cahyono, W. E.
(2010). Pengaruh hujan asam pada biotik dan abiotik. Berita Dirgantara, Vol 8, No 3, pp.48-51. Diakses dari : http://jurnal.lapan.go.id/index.php/berita_dirgantara/article/view/718
Gusti, R. G. (2011).
Laju korosi baja dalam larutan asam sulfat dan dalam larutan natrium klorida. Jurnal Sains dan Matematika, Vol 3, No
1, pp.28-31. Diakses dari : https://www.neliti.com/publications/221221/laju-korosi-baja-dalam-larutan-asam-sulfat-dan-dalam-larutan-natrium-klorida
Matahelumual, B.
C. (2016). Potensi terjadinya hujan asam di Kota Bandung. Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol 1, No 2, pp.59-70. DOI : http://dx.doi.org/10.34126/jlbg.v1i2.6
Nandika, D.
(1983). Hujan Asam Suatu Fenomena yang Mengancam Kelestarian Hutan. Diakses
dari : http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/23543
Nasihah, M.
(2017). Efek Hujan Asam terhadap Pertumbuhan Tanaman. Jurnal EnviScience Vol. 1 No. 1 , 27-30 . Diakses dari : http://jurnalkesehatan.unisla.ac.id/index.php/jev/article/view/53.
Prihatinla,
J.(2010). Efek Hujan Asam terhadap Kandungan Senyawa Biokimia Daun Murbei Morus
multicaulis Perr. Saintifika.Jurnal Ilmu
Pendidikan MIPA dan MIPA . Vol. l l No. I ,109-120 . Diakses dari : https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/61992
Satriawan, D.
(2018). Analisis kuantitatif acidity level sebagai indikator kualitas air hujan
di Kabupaten Cilacap. Jurnal Rekayasa
Sistem Industri, Vol 3, No 2, pp.112-116. Diakses dari : https://ejournal.upbatam.ac.id/index.php/rsi/article/view/478
Talitha, T.
(Tanpa Tahun). Proses Terjadinya Hujan Asam, Pengertian, Dampak & Solusi. Gramedia. Diperoleh dari : https://www.gramedia.com/literasi/hujan-asam/
Yatim, E. M.
(2007). Dampak dan Pengendalian Hujan Asam di Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, Vol 2, No
1, pp.146-151. DOI : https://doi.org/10.24893/jkma.v2i1.24




Komentar
Posting Komentar